Bagaimana cara
menciptakan dunia yang damai tanpa kekerasan karena konflik Agama?
Agama adalah salah satu hal yang paling unik dan paling kompleks
ketika dibahas. Karena agama selalu menyangkut pada semua segi kehidupan,
apalagi khususnya di negara Indonesia. Di masa silam, perang agama pernah
terjadi bahkan sampai sekarang konflik karena perbedaan agama seringkali
menjadi pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kehidupan bermasyarakat,
misalnya Perang Salib. Tapi mengapa hal seperti ini sampai bisa terjadi?
Padahal dalam sebuah agama tentu diajarkan untuk hidup dengan rukun dan damai
dengan sesama manusia. Bukan saling menjatuhkan dan menghancurkan. Tapi, kita
tidak dapat menutup mata, bahwa kenyataan yang terjadi tidaklah sejalan dengan
harapan.
Masalah di atas tentu jika dibiarkan terus menerus
akan mengakibatkan kehancuran, untuk itu diperlukan suatu cara menciptakan
dunia damai tanpa ada kekerasan karena konflik agama. Sebenarnya cara ini lebih
kepada sebuah refleksi, yang pertama ialah kita harus tahu terlebih dahulu apa
itu agama, apa tujuan adanya agama, dan kenapa ada bermacam-macam agama di
dunia ini. Karena jika kita sudah mengerti dan memahami akan poin-poin di yang
saya sebutkan, itu akan mempermudah diri kita melakukan cara-cara yang lain. Cara
yang kedua ialah sikap pluralitas. Sedang cara yang ketiga ialah mengatur dan
menjaga diri kita agar tidak menimbulkan hal-hal yang memicu adanya konflik
Agama itu sebenarnya sebuah sarana kita mencapai
kemuliaan menuju sang Pencipta kita. Agama ada untuk meluruskan jalan kita yang
salah dan sebagai alat untuk membimbing kita menuju Sang Pencipta. Serta kenapa
di dunia kita ini agama begitu banyak? Hal ini karena sebenarnya manusia satu
dengan yang lain mempunyai cara pandang berbeda, begitupun cara pandang mereka
terhadap Tuhan. Untuk lebih gamblangnya, saya mengibaratkan Tuhan itu seperti
kotak kardus. Sedang kita umatnya adalah pengamat kardus tersebut. Ada yang
melihat dari bawah, atas, samping kiri, samping kanan, diagonal, dll. Jika kita
pikirkan secara logika, tentu tidak akan pernah sama antara yang dilihat oleh
orang yang berada di bawah dan berada di atas. Begitu juga agama kita, mungkin
cara ibadat dan cara memuja Tuhan berbeda-beda, tetapi intinya tetap satu yaitu
Tuhan itu satu. Dari penjelasan saya di atas, jika orang sudah mampu
memahaminya dengan baik pasti konflik akan agama bisa dikurangi.
Cara yang kedua adalah sikap pluralitas. Pluraitas
ini adalah suatu sikap penghargaan kepada orang lain yang berbeda dengan kita,
tetapi bukan dengan menjdikan suatu perbedaan itu sama dengan kita. Dari
pengertian ini kita dapat tahu bukan bahwa pentingnya pluralitas dalam
kehidupan beragama. Sikap pluralitas ini sangat diperlukan karena percuma jika
seseorang memahami dan mengerti agama tetapi tidak mempunyai sikap pluralitas.
Karena sebenarnya menurut saya sikap pluralitas inilah yang menjadi kunci
kedamaian antar umat beragama.
Namun, kedua cara tersebut tidak akan maksimal
jika pengelolaan diri sendiri kurang bagus. Jadi kita perlu menambahkan cara
yang ketiga yaitu kita harus mengatur dan menjaga diri kita agar tidak
menimbulkan hal-hal yang memicu adanya konflik. Karena kita datang ke dunia ini
sesungguhnya diutus untuk menjadi pembawa damai bagi sesama.
Jika, ketiga cara tersebut dihayati dan dilaksanakan
dengan sunguh-sungguh saya yakin, konflik karena permasalahan agama tidak akan
terjadi. Betapa indah jika kita bisa hidup damai tanpa adanya konflik karena
agama. Karena Agama bukanlah suatu hal yang digunakan sebagai alasan untuk
membangun konflik, tetapi melainkan sarana untuk membangun kehidupan damai. Seperti
motto di bawah ini :
”Don’t Try to Use the religion as the tool to
war, because it’s same with lower the religion”