Tuesday, 22 January 2013


Bagaimana cara menciptakan dunia yang damai tanpa kekerasan karena konflik Agama?


Agama adalah salah satu hal yang paling unik dan paling kompleks ketika dibahas. Karena agama selalu menyangkut pada semua segi kehidupan, apalagi khususnya di negara Indonesia. Di masa silam, perang agama pernah terjadi bahkan sampai sekarang konflik karena perbedaan agama seringkali menjadi pemicu terjadinya berbagai masalah dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya Perang Salib. Tapi mengapa hal seperti ini sampai bisa terjadi? Padahal dalam sebuah agama tentu diajarkan untuk hidup dengan rukun dan damai dengan sesama manusia. Bukan saling menjatuhkan dan menghancurkan. Tapi, kita tidak dapat menutup mata, bahwa kenyataan yang terjadi tidaklah sejalan dengan harapan.

Masalah di atas tentu jika dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan kehancuran, untuk itu diperlukan suatu cara menciptakan dunia damai tanpa ada kekerasan karena konflik agama. Sebenarnya cara ini lebih kepada sebuah refleksi, yang pertama ialah kita harus tahu terlebih dahulu apa itu agama, apa tujuan adanya agama, dan kenapa ada bermacam-macam agama di dunia ini. Karena jika kita sudah mengerti dan memahami akan poin-poin di yang saya sebutkan, itu akan mempermudah diri kita melakukan cara-cara yang lain. Cara yang kedua ialah sikap pluralitas. Sedang cara yang ketiga ialah mengatur dan menjaga diri kita agar tidak menimbulkan hal-hal yang memicu adanya konflik

Agama itu sebenarnya sebuah sarana kita mencapai kemuliaan menuju sang Pencipta kita. Agama ada untuk meluruskan jalan kita yang salah dan sebagai alat untuk membimbing kita menuju Sang Pencipta. Serta kenapa di dunia kita ini agama begitu banyak? Hal ini karena sebenarnya manusia satu dengan yang lain mempunyai cara pandang berbeda, begitupun cara pandang mereka terhadap Tuhan. Untuk lebih gamblangnya, saya mengibaratkan Tuhan itu seperti kotak kardus. Sedang kita umatnya adalah pengamat kardus tersebut. Ada yang melihat dari bawah, atas, samping kiri, samping kanan, diagonal, dll. Jika kita pikirkan secara logika, tentu tidak akan pernah sama antara yang dilihat oleh orang yang berada di bawah dan berada di atas. Begitu juga agama kita, mungkin cara ibadat dan cara memuja Tuhan berbeda-beda, tetapi intinya tetap satu yaitu Tuhan itu satu. Dari penjelasan saya di atas, jika orang sudah mampu memahaminya dengan baik pasti konflik akan agama bisa dikurangi.

Cara yang kedua adalah sikap pluralitas. Pluraitas ini adalah suatu sikap penghargaan kepada orang lain yang berbeda dengan kita, tetapi bukan dengan menjdikan suatu perbedaan itu sama dengan kita. Dari pengertian ini kita dapat tahu bukan bahwa pentingnya pluralitas dalam kehidupan beragama. Sikap pluralitas ini sangat diperlukan karena percuma jika seseorang memahami dan mengerti agama tetapi tidak mempunyai sikap pluralitas. Karena sebenarnya menurut saya sikap pluralitas inilah yang menjadi kunci kedamaian antar umat beragama.

Namun, kedua cara tersebut tidak akan maksimal jika pengelolaan diri sendiri kurang bagus. Jadi kita perlu menambahkan cara yang ketiga yaitu kita harus mengatur dan menjaga diri kita agar tidak menimbulkan hal-hal yang memicu adanya konflik. Karena kita datang ke dunia ini sesungguhnya diutus untuk menjadi pembawa damai bagi sesama.

Jika, ketiga cara tersebut dihayati dan dilaksanakan dengan sunguh-sungguh saya yakin, konflik karena permasalahan agama tidak akan terjadi. Betapa indah jika kita bisa hidup damai tanpa adanya konflik karena agama. Karena Agama bukanlah suatu hal yang digunakan sebagai alasan untuk membangun konflik, tetapi melainkan sarana untuk membangun kehidupan damai. Seperti motto di bawah ini :

 ”Don’t Try to Use the religion as the tool to war, because it’s same with lower the religion”